Lima Cara Rasulullah Mencari Rezeki

1. Bekerja Serius untuk ‘Memberi’

Ciri pertama orang yang bekerja dengan serius adalah memulai sesuatu pekerjaan itu sebelum matahari terbit. Rasulullah dan para shahabatnya memulai pekerjaan mereka sejak subuh. Mereka sangat cepat tidur malam, dan sangat cepat bangun pagi. Bukan lambat tidur dan lambat bangun. Hingga terlambat untuk bekerja mencari rezeki. Rasulullah membangunkan anaknya sejak matahari belum terbit:

“wahai anak-anakku, bangunlah, bergeraklah, serta cari rezeki dari tuhan kalian sebelum matahari terbit”.

Namun Setelah dilihat-lihat ternyata, kaum kafirun dan musyrikunlah yang pada saat ini menggunakan konsep mencari rezeki sebelum matahari terbit. Generasi muda banyak yang bermental ‘kantoran’. Bekerja setelah matahari terbit dan tidak gigih dalam mencari rezeki. Akhirnya, kebahagiaan hidupnya tertunda dan diambil oleh orang lain.

Bekerja Untuk Memberi

Ciri utama Rasulullah bekerja adalah untuk memberi. Bukan untuk menyimpan. Beliau memiliki konsep spirit of giving. Bukan spirit of saving. Jika ditelusuri sejarah hidup Rasulullah dan para shahabatnya, maka kita mendapatkan bahwa mereka bekerja dengan giat, berpenghasilan dan berlomba-lomba untuk memberi. Sehingga muncul semangat gotong-royong yang dimulai dari spirit of giving itu.

Dalam hadis qudsi, Allah SWT berkata bahwa: “Wahai anak Adam, berilah rezeki kalian kepadaku. Aku pasti akan memberi rezeki kepada engkau”.

Dalam Al-Quran sangat banyak ayat yang menceritakan keutamaan konsep memberi ini. Seperti firman Allah:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barang siapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S.Al-An’am : 160)

Di ayat yang lain:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 261)

Catatan:

Biasanya orang yang sehat dan cerdas selalu disiplin dengan puasa senin dan kamis.

Memberi Setiap Hari

Semangat bekerja setiap hari, berpenghasilan, dan memberi sebahagian dari penghasilan itu kepada kaum lemah, faqir dan miskin ternyata menjadi pemancing rezeki berikutnya. Sebagainya yang dikatakan  oleh Iman ’Ali bin Abi Thalib: “Pancinglah rezeki itu dengan sedekah”.

Setiap hari memberi, setiap hari bersedekah dan setiap hari memberikan infaq merupakan ciri utama dari masyarakat muslim yang produktif. Jika setiap orang muslim, dengan setiap hari berniat memberi, hingga tak ada dalam benaknya untuk mengemis dan meminta-minta maka kaum muslimin terhindar dari sikap pengemis dan meminta-minta yang  paling tidak disukai Rasulullah. Rasulullah bersabda:

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ أَحْبُلًا فَيَأْخُذَ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ فَيَبِيعَ فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أُعْطِيَ أَمْ مُنِعَ

Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya. [HR. Bukhari No.2200].

Berapa Ukuran Memberi Setiap Hari?

Ukuran memberi setiap hari yang paling ideal adalah sepuluh persen dari hasil pekerja harian. Misalnya, satu hari penghasilan kita sepuluh ribu, maka sunnah Rasulullah yang diterapkan oleh sahabat dan salafussalih minimal mereka memberi dari hasil itu sepuluh persen. Berarti, dari sepuluh ribu dikeluarkan untuk sedekah atau infaq sebesar seribu rupiah. Jika penghasilan hariannya seratus ribu, maka sepuluh persennya adalah sepuluh ribu.

Ust. Yusuf Mansur dalam berbagai ceramahnya selalu menyarankan konsep sedekah. Semuanya berhasil dengan mendatangkan rezeki yang tak terduga. Dengan sedekah itu dimudahkan Allah untuk mendatangkan rezeki berikutnya. Inilah rahasia mulia dalam seni mencari rezeki. Rezeki akan semakin banyak datang jika kita suka berbagi rezeki.

Hari-hari pertama akan terasa berat dan sulit, tetapi jika sering dilakukan dan terus terlatih, maka akan semakin nikmat. Pertama dipaksa, kedua akan terbiasa, ketiga akan terasa nikmat dengan member. Jika tidak member setiap hari, terasa ada sesuatu yang kurang dalam keseharian kita.

Faedah Memberi

Orang yang suka member akan disayangi Allah Maha Pemberi dan disayangi manusia. Setiap orang yang kita beri, ia adalah laksana kran rezeki baru bagi kita. Berarti, semakin banyak kita member kepada banyak orang, maka akan semakin banyak pula kita memasang kran rezeki. Jika kita suatu saat dalam kesulitan, maka ada saja cara Allah SWT yang akan mencukupi kebutuhan kita. Allah SWT berfirman:

“Apapun yang kamu infaq kan, maka Allah akan segera menggantinya.”(Wahuwayukhlifuhu)

Semakin kita giat memberi, akan semakin mendorong kita untuk giat bekerja. Berbeda dengan orang yang jenuh bekerja, karena tak ada dalam jiwanya untuk menggembirakan orang lain. Sesulit apapun, jika seorang bapak bekerja dengan niat melihat senyum anak dan istrinya, maka gairah kerjanya akan diberkahi Allah dan dimudahkan Allah. Bahkan, bagi penggiat sedekah setiap hari ia akan lebih sehat, lebih selera makan dan lebih nikmat tidurnya. Bagi yang bakhil dan pelit, sangat mudah dihinggapi syaithan dan berbagai virus penyakit.

Motivator terkenal Ippho Santosa dalm bukunya yang best seller, Tujuh keajaiban Rezeki, seringkali menyampiakan konsep sedekah itu adalah awal dari pintu rezeki. Hingga, kalangan kafirun dan musyrikun yang kaya raya seperti  Bill Gate dan Donald Triump bersedekah setiap hari, dari penghasilan harian mereka di atas sepuluh persen. Ternyata mereka semakin kaya. Padahal, mereka bukan ustaz, dai dan bulalligh.

Catatan:

Tidak ada seorangpun yang ingin terlahir untuk menjadi miskin, susah dan menderita.

2. Kerja Lembur Tahajjud

Kita tak cukup ikhtiar bekerja di siang hari saja. Perlu kerja lembur. Siapa yang banyak kerja lembur, pasti akan lebih di sayang Bosnya. Dan Allah adalah Maha Bos. Maha Mengetahui. Maha Merekam kabaikan kita dengan kerja lembur itu. Lembur di malam hari itu adalah shalat tahajjud.

Shalat tahajjud hendaknya jangan lagi dua rakaat. Jika ada keinginana yang kuat, maka lemburnya diperbanyak. Minimal enam rakaat. Jika baru muallaf, baru masuk Islam, maka wajar coba-coba tahajjud dengan dua rakaat. Jika sudah tahunan masuk Islam, maka raih rezeki dengan minimal tahajjud enam rakaat setiap malam.

Tahajjud terbaik sebelum masuk waktu subuh,. Mengapa kita lembur untuk menonton bola kaki berjam-jam dengan sangat serius, sementara tak pernah serius dengan Allah dan klub malaikat dengan adegan tahajjud? Jika tahajjud setiap malam, minimal enam rakaat, plus ditambah dengan menghafal ayat-ayat baru, perkataan Allah SWT, maka Allah sangat  senang kepada hamba Allah seperti ini. Jika kita suka menghafal perkataan senang. Demikian jugalah Allah, sangat menyukai orang yang menghafal Al-Quran secara total: Rasulullah SAW bersabda, “penghafal quran akan dijaga oleh Ar-Rahman (rezekinya). Tidak ada penghafal quran yang sulit rezekinya”.

Doa di malam hari, pada saat tahajjud juga cepat nyambung sinyalnya kepada Allah. Laksana telepon, pada malam hari akan lebih jelas, lebih mudah, lebih murah dan mendapat diskon yang lumayan. Shalat tahajjud lebih asyaddu wath’an dan aqwamu qilan: lebih focus dan lebih serius disisi malaikat yang mencatat.

3. Silaturahim

Silaturahim merupakan komunikasi aktif kepda siapa saja. Generasi muslim tak boleh hanya diam. Mereka harus bertutur kata dengan sopan. Santun dalam beretika, dan berani berkomunikasi dengan siapa saja. Baik kepada muslim da non muslim. Sebagaimana yang dilakukan oleh komunikator ulung, Rasulullah SAW. Beliau sangat aktif berdialog kapada tua,muda, dan mengirim surat ke berbagai tokoh dan pemimpin dunia pada zamanya.

Silaturahim adalah pembuka rezeki maka tugas kita adalah menyapa, mempublikasikan salam. Berdialog da bertanya tentang berbagai hal yang ada di sekeliling kita. Konsultasi dan tak sungkan meminda ide dan gagasan dari siapa saja yang dipandan gmampu memberikan nasihat dan saran untuk perbaikan rezeki kita secara pribadi, keluarga, masyarakat. Bahkan, tak salah kita mminta ide dan dialog tentang masa depan agama dan Negara kepada seluruh lapisan masyarakat.

Dengan banyak silaturahim, berziarah, saling tukar hadiah dan saling tukar informasi,maka akan muncul sikap saling mengasihani antar sesame muslim. Rasulullah bersabda: “saling member hadiahlah kalian, maka kalian akan saling menyayangi”. Sehingga pemikir muslim Mesir, Dr. Yusuf Qardawy mengatakan  bahwa tidak ada makna silaturahim, tanpa saling member. Berarti, setiap muslim harus siap siaga dengan berbagai hadiah. Seperti buku,pulpen, uang receh, buah tangan dari luar daerah dll.

Hikmah besar dari silaturahim adalah menambah net working. Menambah jaringan kerja. Semakin banyak jarring, maka semakin banyak ikan yang akan sangkut di jarring itu. Jaringan persahabtan dan jaringan kerja, merupakan pintu-pintu rezeki yang terabaikan saat ini.

Para petani hendaknya bersilaturahim dengan peternak. Peternak bersilaturahim ke pedagang, pedagang bersilaturahim ke guru. Nelayan bersilaturahim ke majelis taklim, hingga tidak ada elemen masyarakat yang tak punya jaringan silaturahim. Akhirnya, tak ada kasta dan kelas dalam masyarakat. Si miskin dibutuhkan si kaya. Sikaya sangat membutuhkan masyarakat faqir miskin. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kalian itu bisa jaya dan mendapat rezeki, karena adanya orang-orang lemah di sekitar kalian.(Hadis)

4. Pemanis dan Pelaris ‘Dhuha’

Pemanis dan pelaris anak muda bukanlah jimat, santet dan datang para normal atau meminta kepada orang yang sudah meninggal dunia. Betapa di gua dan berbagai amalan yang merusak aqidah. Agama mengajarkan umatnya untuk merawat kesehatan dan kecantikan serta memudahkan datangnya rezeki dengan melaksanakan shalat dhuha.

Shalat dhuha ini dianjurkan di lokasi kita bekerja. Sehingga suasana kita bekerja dipenuhi dengan malaikat dan kekuatan langit (Allah). Sebagaimana Allah bersumpah denga waktu dhuha (waddhuha) dan bersumpah dengan Demi Matahari dan waktu dhuha. Matahari adalah sumber  rezeki terbesar dan waktu dhuha adalah di saat manusia bertebaran berebut mencari rezeki dari berbagai kavling rezeki yang telah disiapkan oleh Allah.

Kekuatan magnetis pada shalat dhuha terlihat jelas dengan doa-doa yang popular dibaca. Sebagaimana yang terlihat di akhir buku ini. Jika kita hayati, maka doa shalat dhuha itu adalah symbol dari optimism yang luar biasa. Seakan, antara hamba Allah yang mencari rezeki dengan Maha Pemberi Rezeki tidak ada jarak.

5. Disiplin Puasa Senin Kamis

Cara kelima mencari rezeki ini, saya selalu memberikan contoh ayam kampong dengan ayam potong. Ada pelajaran dan hikmah yang nyata pada kehidupan dua jenis ayam ini.

Ayam potong selalu kenyang. Setiap saat dimanja dengan makanan dan minuman serta obat-obatan. Sementara ayam kampong, sering lapar dan terlatih hidup dengan alami. Hasilnya, ayam kampong memiliki daging yang kuat, bulu mengkilap, harga mahal dan usia lebih panjang.

Sementara ayam potong yang terus kenyang, tak mengenal puasa, badannya bengkak. Wajah pucat dan pesimis. Tulang lembek. Bulu kotor, harga murah serta ajalnya sangat singkat.

Demikian jugalah halnya dengan manusia yang mulia ini. Puasa senin kamis menupakan disiplin kesehatan yang luar biasa. Sehat adalah rezeki yang sangat berharga. Tidak ada makna duit sejuta perhari, jika berobah setiap hari menghabiskan dua juta. Maka, sehat adalah modal mencari rezeki yang paling mahal.

Tidak ada jenis mesin apapun di dunia ini yang mampu bekerja dalam 24 jam selama seminggu berturut-turut. Demikian jugalah halnya dengan mesin perut manusia. Perut itu perlu istirahat, sebagaimana mesin. Istirahat terbaiknya adalah disiplin puasa sunnah, senin kamis dan puasa-puasa sunnah lainnya.

Bagi generasi muda, puasa ini akan mampu membagun karakter dan moralitas. Mampu menata fungsi syahwat dan lebih terampil mengendalikan emosional. Para demonstran yang anarkis itu biasanay tak melaksanakan puasa senin kamis.

Disisi lain, pada senin terdapat potensi ekonomi yang dahsyat. Misalnya, sejuta muslim di kota mpuasa senin. Tak makan siang dan sarapan pagi. Jika nilai uang makan siang dan sarapan itu sepuluh ribu rupiah, maka satujuta muslim dikali sepuluh ribu, setiap senin akan mampu mendatangkan sepuluh milyar rupiah.

Berarti, setiap senin kita membuang uang sepuluh milyar ke safetytank dan WC. Kemudian, pada hari kamis kita buang sepercuma sepuluh milyar lagi. Dalam sebulan, setidaknya ada potensi uang 80 milyar dari kota Medan, terbuang dengan sia-sia. Jika mengikut sunnah Rasulullah, maka pemimpin muslim akan menggerakkan potensi ekonomi ini dengan gerakan PSK alias Puasa Senin Kamis atau PKL alias Penggiat Kamis Senin. Disamping itu semua, hikmah puasa senin kamis ini akan mencerdaskan otak. Otak yang cerdas merupakan kunci rezeki.

Di tulis oleh Dr. H. Muhammad Sofyan, Lc.MA

Related posts