Menciptakan Rezeki Datang Mencari Kita

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S.:Al-Bagarah : 212)

Umat Islam yang miskin dan terkebelakang tidak di hendaki oleh Allah SWT. Terlampauwi dari bangsa lain dan menjadi target objek musuh Allah dari golongan jin dan manusia. Akhirnya, terbentuklah perbudakan manusia modern. Hingga berjalan menuju kepada penuhananan manusia yang sedikit rezeki terhadap manusia yang banyak rezeki. Terciptalah kasta dan kelas si kaya dan si miskin. Padahal, dalam islam tak dibenarkan menciptakan penuhanan manusia terhadap manusia lainnya.

Kriteria Mencari Rezeki

Empat golongan kriteria manusia saat ini yaitu:

  1. golongan yang sibuk mencari duit, malas pergi ke masjid.
  2. golongan yang sangat rajin ke masjid, tetapi malas mencari duit.
  3. golongan yang tak rajin mencari duit, bahkan serta enggan pergi ke masjid.
  4. golongan yang sangat rajin mencari duit, dan sangat rajin ke masjid.

Golongan pertama dan kedua ini sebenarnya tidak mengikuti sunnah Rasulullah. Mereka telah melakukan hal bid’ah. Karena Rasulullah adalah golongan yang keempat yaitu orang yang sangat rajin mencari duit dan sangat rajin ke masjid.

Di tengah masyarakat kita saat ini, kita malah menemukan golongan yang ketiga yaitu kelompok masyarakat yang tak rajin mencari duit serta enggan pergi ke masjid. Mereka selalu santai dan menghitung kekayaan orang lain. Mereka adalah kelompok yang berkhayal dan bermimpi. Padahal, Umar bin Khattab pernah memarahi orang yang sangat santai, yang hanya dengan berdoa untuk mendatangkan rezeki dengan perkataan: Apakah engkau tak pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa langit tak pernah menurunkan hujan emas dan perak.

Bahagia di Dunia Sebelum Di Surga

Sebuah ‘dream’ mimpi dan obsesi besar yang dibangun agama yang mulia ini adalah komitmen untuk menggapai hidup yang bahagia di dunia, sebelum bahagia dia akhirat kelak. Sangat keliru, jika kita hanya memilih salah satu kebahagiaan saja. Doa yang setiap hari kita perdengarkan dan kita deklarasikan adalah “Ya Tuhan kami, berikan kepada kami di dunia ini kebaikan, dan di akhirat kebaikan, serta peliharakan kami dari siksa api neraka”.

Neraka dalam makna yang luas, bukan hanya dirasakan sejak di akhirat. Bagi kaum yang beriman, maka segala bentuk krisis di dunia ini adalah gambaran miniatur neraka yang disiapkan oleh Allah SWT di akhirat kelak. Di sinilah kita harus memahami bahwa dunia dan akhirat menyatu. Dunia harus direbut untuk dijadikan jembatan menuju akhirat. Serta akhirat harus diyakini untuk membuat kita terus berbuat kebajikan hingga akhir hayat. Sehingga kita mati dalam keadaan berbuat baik tiada henti.

Baca juga artikel selanjutnya Lima Cara Rasulullah Mencari Rezeki

Related posts